https://banjarnegara.times.co.id/
Berita

Punuk Leher Tak Selalu Akibat Bantal, Gaya Hidup Sedentari Jadi Faktor Utama

Sabtu, 10 Januari 2026 - 12:26
Punuk Leher Tak Selalu Akibat Bantal, Gaya Hidup Sedentari Jadi Faktor Utama Ilustrasi tidur.

TIMES BANJARNEGARA, JAKARTA – Masalah punuk leher kerap dikaitkan dengan posisi tidur dan penggunaan bantal. Namun, para ahli menegaskan kondisi ini tidak selalu dipicu oleh faktor tersebut. Gaya hidup sedentari atau kurang bergerak justru dinilai menjadi penyebab utama munculnya punuk leher, terutama pada generasi yang banyak beraktivitas di depan layar.

Dilansir dari Hindustan Times, Sabtu (9/1/2026), punuk leher merupakan tonjolan kecil yang terbentuk akibat penumpukan jaringan lemak di area antara leher dan punggung atas. Kondisi ini semakin sering ditemukan seiring meningkatnya kebiasaan duduk dalam waktu lama dan kurangnya aktivitas fisik.

Anggapan bahwa tidur tanpa bantal dapat mengatasi punuk leher juga kerap beredar di masyarakat. Namun, dokter spesialis Anestesiologi dan Manajemen Nyeri Intervensional yang berbasis di Maryland, Amerika Serikat, Dr. Kunal Sood, menyebut bantal bukan satu-satunya faktor penyebab kondisi tersebut.

“Bantal bukan akar masalahnya. Sekadar menghilangkan bantal kemungkinan besar tidak akan menyelesaikan punuk leher,” ujar Dr. Sood.

Menurut dia, benjolan kecil di pangkal leher terbentuk akibat kombinasi berbagai faktor, seperti postur tubuh yang buruk, ketidakseimbangan otot, serta gangguan keselarasan tulang belakang, selain kebiasaan tidur.

Dalam banyak kasus, punuk leher berkaitan dengan postur kepala maju ke depan. Kondisi ini terjadi ketika kepala berada di depan bahu dalam waktu lama, misalnya saat menatap ponsel, laptop, atau layar komputer sepanjang hari.

Dr. Sood menjelaskan, bantal memang memiliki peran, tetapi tidak selalu seperti yang dipersepsikan banyak orang. Bantal yang terlalu tebal dapat mendorong kepala ke posisi fleksi atau condong ke depan. Sebaliknya, bantal yang terlalu tipis atau tidak menggunakan bantal sama sekali dapat membuat leher jatuh ke posisi ekstensi.

“Kedua kondisi ekstrem ini dapat mengganggu lengkungan alami tulang belakang leher dan meningkatkan ketegangan pada leher serta punggung atas selama tidur,” ujarnya.

Ia menekankan tidak ada ukuran atau jenis bantal yang ideal untuk semua orang. Pemilihan bantal harus disesuaikan dengan kebutuhan individu agar dapat menjaga posisi leher tetap sejajar.

“Tujuannya bukan tidur tanpa bantal, melainkan menjaga keselarasan netral. Kepala, leher, dan tulang belakang harus berada dalam satu garis lurus yang didukung, baik saat tidur telentang maupun miring,” kata Dr. Sood.

Lebih lanjut, ia menilai upaya mengurangi punuk leher seharusnya lebih difokuskan pada kebiasaan di siang hari, bukan hanya mengandalkan posisi tidur. Beberapa langkah yang disarankan antara lain membatasi kebiasaan menunduk saat melihat layar, memperkuat otot punggung bagian atas, melakukan peregangan pada otot dada dan leher yang kaku, serta mengatur posisi kerja agar sejajar dengan pandangan mata.

Pendekatan menyeluruh terhadap postur tubuh dan gaya hidup aktif dinilai lebih efektif untuk mencegah maupun mengurangi punuk leher dibandingkan sekadar mengubah kebiasaan tidur (*)

Pewarta : Imadudin Muhammad
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banjarnegara just now

Welcome to TIMES Banjarnegara

TIMES Banjarnegara is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.