UPTD Persampahan TPA Winong Banjarnegara Hasilkan Petasol via Mesin Pirolisis, Suplai BBM Alat Berat
Sampah plastik yang ada di TPA Winong sudah berhasil dikurangi. Jika mesin pengolahan dimaksimalkan, maka akan lebih banyak lagi sampah plastik yang diurai atau diolah jadi BBM.
BANJARNEGARA – Mesin pengolahan sampah plastik menjadi BBM (pirolisis) milik Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) Kabupaten Banjarnegara hingga saat ini fokus memproduksi petasol untuk menunjang bahan bakar alat berat di TPA Winong.
"Petasol yang dihasilkan juga belum maksimal karena terbatasnya waktu operasional dan tenaga lapangan," kata Kepala UPTD Persampahan TPA Winong Banjarnegara, Andar Wahono ST saat saat ditanya TIMES Indonesia, Senin (10/8/2026).
Andar Wahono menyampaikan, secara efektif mesin berkapasitas 50-100 kg ini hanya dioperasikan 4 hari jam kerja, (Senin-Kamis) setiap pekannya. Hari Jumat dan Sabtu untuk perawatan atau pembersihan mesin.
Pun demikian, ada bagian tertentu yang harus dibersihkan setiap hari pasca operasional.
Sementara BBM yang dihasilkan baru kisaran 15-20 liter/hari. Bahan bakar tersebut kemudian diproses (treatment) beberapa tahap untuk menghasilkan bio solar berkualitas tinggi (petasol) hampir menyamai Pertamina Dexlite.
"Kita belum bisa maksimal karena bahan yang diolah disesuaikan jam kerja yakni pukul 07.00 - 16.00 WIB atau 20 - 25 Kg plastik," jelasnya.
Jika menaikan bahan baku, lanjut Andar Wahono, maka jam operasional juga bertambah lama.
"Jika kita sudah memiliki tenaga tambahan, dipastikan dapat menaikan bahan baku sesuai kapasitas mesin. Sehingga petasol yang dihasilkan lebih banyak," imbuhnya.
Selama ini, mesin pirolisis dioperasikan oleh dua orang operator yang memiliki tugas ganda, termasuk mengoperasikan mesin pemilah sampah.
"Ya kita memang akan kerepotan jika harus memilah sampah secara manual. Waktunya lebih lama dan hasilnya sedikit," imbuhnya.
Baru Mampu Topang 10 Persen BBM Harian
Dengan hasil 15-20 liter petashol/hari, baru mampu menopang 10 prosen dari kebutuhan BBM tiga alat berat di TPA Winong yakni sekitar 240 liter/hari.
Namun demikian, sampah plastik yang ada di TPA Winong sudah berhasil dikurangi. Jika mesin pengolahan dimaksimalkan, maka akan lebih banyak lagi sampah plastik yang diurai atau diolah jadi BBM.
"Selama ini, BBM yang dihasilkan baru menjadi campuran saja, karena jumlahnya sedikit. Tapi untuk mesin dompleng penggerak mesin pemilah sampah, sudah 100 persen menggunakan petasol buatan sendiri," kata Andar Wahono lagi.
Pengolahan Gas Metana
Salah satu kendala yang dihadapi dalam mengoperasikan mesin Philorisis ini, kata Andar Wahono, sering kesulitan bahan bakar kayu. Salah satu upaya ke depan, menggantikan kayu bakar akan memanfaatkan gas metan yang di kawasan TPA Winong.
Pemanfaatan geomembran (karpet kedap air) dengan ketebalan 1,5 MM dengan spesifikasi HDPE sebagai alas urugan sampah (Controlled Landvill) menjadikan cairan Lindi (air kotor berasal dari sampah) tidak mencemari lingkungan karena tidak ada kebocoran.
Namun saat usia 2 bulan justru muncul gas metana yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, bahkan untuk tungku mesin Philorisis.
Maka dari itu, ke depan UPTD Persampahan TPA Winong akan memanfaatkan potensi gas metana untuk menaikan suhu pada alat pirolisis hingga 600 derajat celcius sehingga dapat mengurai alumunium foil yang ada di TPA Winong, Bawang Banjarnegara. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

