Penyakit Cabai Sulit Diatasi, Warga Pucungbedug Banjarnegara Nekat Beralih Tanam Kopi di Daerah Rawan Kekeringan
Tanaman kopi milik Sudaryo di Pucungbedug yang dikenal daerah rawan kekeringan. (FOTO: Muchlas Hamidi/TIMES Indonesia)

Penyakit Cabai Sulit Diatasi, Warga Pucungbedug Banjarnegara Nekat Beralih Tanam Kopi di Daerah Rawan Kekeringan

Akibat situasi yang serba tidak menentu, Sudaryo memberanikan diri melakukan inovasi, dengan menanam kopi Robusta di lahan bengkoknya yang biasa ditanami cabai.

TIMES Banjarnegara,Senin 24 Agustus 2026, 21:12 WIB
2.1K
M
Muchlas Hamidi

BANJARNEGARASudah setahun ini penyakit cabai dirasakan warga Pucungbedug Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara semakin sulit dikendalikan.

‎Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah warga, apalagi harga cabai cenderung fluktuatif, seperti biasa, saat panen raya harga anjlok. Ujung-ujungnya petani harus menelan kerugian.

‎Melihat situasi yang serba tidak menentu ini, Sudaryo, Sekdes Pucungbedug memberanikan diri melakukan inovasi, dengan menanam kopi Robusta di lahan bengkoknya yang biasa ditanami cabai.

‎"Kita mengawali mas, mencoba keberuntungan dengan menanam kopi robusta di Pucungbedug yang dikenal rawan kekeringan," katanya saat berbincang bincang dengan TIMES Indonesia di kebunnya, Sabtu (22/8/2026).

‎Tahap pertama, Daryo menanam sedikitnya 800 pohon di lahan tanah bengkok seluas 2.800 M2 dengan jarak 1 X 2,5 meter. Kini tinggi pohon rata - rata diatas 1 meteran memasuki umur tanaman 12 bulan.

Penyiraman sistem jaringan otomatis pada tanaman kopi
Penyiraman sistem jaringan otomatis pada tanaman kopi

‎"Alhamdulillah sudah mulai berbunga mas, namun masih terkendala penyakit tanaman. Ada tiga jenis hama yang menyerang tanaman kopinya," ujarnya lagi.

‎Ia juga juga mengaku belum sempat melakukan pencegahan terhadap tiga menyakiti yang menyerang tanaman kopinya. 

‎"Jenis penyakit, memang tergolong ringan, karena cukup dengan menyemprotkan insektisida. Insyaallah dengan disemprot, tanaman kopinya akan kembali tumbuh subur," jelas Karyo.

‎Disiram Setiap Hari 

‎Seperti sebut diatas, daerah Pucungbedug masuk daerah rawan air/kekeringan. Oleh karena itu untuk menopang ketersediaan air, ia membuat sumuran di sungai tidak jauh dari lahan pertaniannya.

‎Air kemudian disedot menggunakan mesin pompa untuk disalurkan ke lokasi tanaman melalui pipa atau paralon yang dipasang tepat berjejer dengan tanaman kopi tersebut.

‎Paralon tersebut kemudian diberi lubang di setiap batang pohon kopi. Dengan pola ini tanaman dapat tumbuh normal dan subur.

‎"Karena air sungai mengandung butiran tanah atau pasir putih, maka setiap hari lubang air tersebut harus dikontrol setia hari. Jika mampet kita tusuk dengan ranting atau kawat," katanya menjelaskan.

‎Hari ini lanjut dia, terlambat siram, sehingga daun tampak layu. Namun saat tanah tersebut sudah sedikit basah, maka tanaman akan segar kembal.

Pawit Setianto, Kabid Holtikultura dan Perkebunan DPPKP Kabupaten Banjarnegara
Pawit Setianto, Kabid Holtikultura dan Perkebunan DPPKP Kabupaten Banjarnegara

‎Dinas Pertanian Berikan Apresiasi 

‎Terpisah Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Banjarnegara Firman Sapta Ady SPt melalui Pawit Setianto, Kabid Holtikultura dan Perkebunan mengapresiasi langkah yang ditempuh oleh petani asal Pucungbedug.

‎Ia menyambut baik upaya pengembangan mandiri kopi di Kabupaten Banjarnegara khususnya di selatan yang dikenal daerah kekeringan, karena akar tanaman kopi sebenarnya dapat menyimpan air.

‎Karena tanaman kopi jenis robusta termasuk tahan air, sehingga cocok dikembangkan di daerah Pucungbedug atau daerah selatan Banjarnegara. 

‎"Akar tanaman kopi, mampu menyimpan air, sehingga lebih tahan saat terjadi Kekeringan. Pun demikian alangkah baiknya tanaman ini harus disiram jika lahan benar - benar sudah kritis," ujarnya, Senin (24/8/2026)

‎Ia berharap, tanaman kopi ini menjadi prodak pilihan yang mampu mendongkrak perekonomian warga di Pucungbedug dan sekitarnya.

‎Disampaikan juga bahwa daerah Pucungbedug dikenal sebagai penghasil singkong terbesar di Kabupaten Banjarnegara.

‎"Namun belakangan ini, harganya terus menurun, begitu juga tanaman cabai yang banyak ditanam di daerah ini," kata Pawit.

‎Harga Kopi Terus Naik

‎Di sisi lain, lanjut Pawit, harga komoditas kopi terus merangkak naik. Saat ini harga kopi cherry (buah segar baru petik) jenis robusta Rp 12.000/kg dan Arabika Rp 20.000/kg.

Sedang harga bijih kopi kering premium (Green bean) Arabika 150.000/kg dan robusta Rp 80.000/kg. 

‎Untuk diketahui, luas tanaman kopi di Kabupaten Banjarnegara tahun 2025 mencapai 2500 ha. Untuk robusta 1300 ha dan arabika 1200 ha. 

‎"Kopi Arabika tersebar di dataran tinggi atau diatas ketinggian lebih dari 1000 MDPL, sedang untuk jenis robusta tersebar di daerah bawah Banjarnegara," imbuhnya.

Di akhir, Pawit menambahkan jika pada 2026, Banjarnegara mendapat alokasi bantuan kopi seluas 700 ha dari Kementerian Pertanian RI. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muchlas Hamidi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banjarnegara, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.